Horor Esek-esek dan Receh yang Telah Ditinggalkan

Purba Wirastama    •    26 Desember 2018 13:22 WIB
montase film
Horor Esek-esek dan Receh yang Telah Ditinggalkan
Suzzanna: Bernapas dalam Kubur menjadi film horor terlaris di Indonesia (foto: soraya)

Setelah era Arwah Goyang Karawang dan Suster Keramas beberapa tahun silam, serta tahun-tahun senyap untuk film hantu, jumlah film layar lebar dengan tema supranatural atau hantu mengalami kenaikan lagi pada 2018. Jumlahnya mencapai 40 judul – meningkat 67% dari tahun 2017 dan 81% dari tahun 2016.

Kenaikan jumlah tersebut mengiringi kenaikan jumlah penonton atau angka penjualan tiket selama dua tahun terakhir, baik untuk film umum maupun film genre dengan kisah supranatural. Kisah supranatural tentu tidak selalu horor, tetapi kebanyakan dikemas sebagai film horor.

Kenaikan tren film horor pada 2018 sedikit banyak dipengaruhi sukses komersial tahun sebelumnya. Selain Danur, Jailangkung, Mata Batin, dan The Doll 2 yang mencapai angka penjualan lebih dari satu juta lembar, ada Pengabdi Setan. Film dengan kisah sekte dan "anak setan" ini tidak hanya mencapai rekor terlaris sepanjang masa, tetapi juga menembus nominasi Piala Citra untuk kategori Film Terbaik.

Selain film dalam negeri, sejumlah film horor atau supranatural dari barat juga sukses dan populer di dunia selama beberapa tahun terakhir. Misalnya waralaba The Conjuring, It, Ouija, atau Lights Out.

Pada tahunnya Pengabdi Setan, lima dari 15 film terlaris adalah film horor. Dari lima film horor ini saja, total nilai penjualan tiketnya mencapai 12 juta lembar. Itu setara dengan 28% dari hasil penjualan tiket untuk 120-an film panjang tahun itu. Hampir 10% datang dari Pengabdi Setan.


Film Pengabdi Setan (Foto: rapifilms)

Bandingkan dengan 2016. Hanya ada satu film horor yang terhitung laris, itupun berada di posisi ke-15, yaitu The Doll dengan nilai penjualan 550 ribu lembar tiket. Menurut data FilmIndonesia.or.id, film horor hanya memberi 3% dari seluruh pendapatan film bioskop tahun itu.

Sepanjang 2018 ini, jumlah film horor meningkat 1,5 kali lipat dari tahun lalu. Minat penonton terhadap film-film ini terhitung tinggi karena delapan dari 15 film terlaris adalah film horor. Tujuh di antaranya meraup penjualan tiket lebih dari satu juta lembar.

Jika produser/distributor tidak melakukan nobar gratis dengan intensi tinggi atau memborong tiket satu studio yang ternyata kosong, data soal "jumlah penonton" tentu bisa bicara lebih jujur. Namun tetap saja, fakta yang bisa dilihat bersama, jumlah film horor meningkat tajam untuk tahun rilis 2018.


Tren Baru, Tema Baru

Dalam puncak tren terbaru ini, hampir tidak ada lagi film-film supranatural yang mencoba menawarkan unsur sensasi seksual atau "esek-esek" lewat promosi, atau lewat judul yang lebih bernuansa komedi ketimbang seram. Misalnya pernah ada, Pocong Mandi Goyang Pinggul (2011) yang katanya, dibintangi Sasha Grey.

Delapan judul film horor terlaris meliputi Suzzanna: Bernapas dalam Kubur, Danur 2: Maddah, Asih (spin-off Danur), Jailangkung 2, Sabrina (spin-off The Doll), Kuntilanak, Sebelum Iblis Menjemput, dan Rasuk.

Total capaian box office atau penjualan tiket bioskop dari delapan film itu mencapai 13,72 juta lembar. Katakanlah penjualan tiket seluruh film tahun ini adalah 50 juta lembar, delapan judul tersebut menyumbang 27%. Tidak beda jauh dengan kontribusi pada tahun 2017.

Kebanyakan jualan "horor" dari film-film ini, kendati tidak selalu berhasil, berusaha dihantar lewat sesuatu yang selama ini hidup dalam masyarakat kita, yaitu kehadiran sosok yang menakutkan tetapi tidak kasatmata entah di rumah, tempat terlarang, urusan masa lalu, atau dalam perjalanan.


Sebelum Iblis Menjemput (Foto: skymedia)

Ada gangguan supranatural yang datang kepada orang-orang yang memang nekad, seperti Alas Pati dan Kuntilanak, rencana yang berujung salah seperti Tumbal: The Ritual dan 13: The Haunted, balas dendam seperti Sajen dan Aib: #Cyberbully, gangguan di rumah seperti Rumah Belanda dan Gentayangan, atau terkait sekte/ritual/santet seperti Kafir: Bersekutu dengan Iblis dan Sebelum Iblis Menjemput.

Kualitas tidak selalu sebanding dengan kuantitas. Baiklah kita bisa sepakat. Tidak semua film ini menawarkan konsep "horor" atau kisah supranatural yang segar. Tidak semua juga, jika menyimak berbagai ulasan di media dan dari penikmat film atau moviebuff, punya kualitas mumpuni, terutama dalam gagasan dan cerita. Harus diakui, aspek pengembangan cerita untuk film-film dalam negeri masih belum terjamin bagus, bahkan untuk film-film yang terhitung laris.

Namun setidaknya, ada gejala baru yang baik. Kenaikan jumlah film genre terutama horor beriringan dengan kenaikan jumlah minat penonton di bioskop. Jualan filmnya bukan lagi hal-hal yang tidak substantif di luar cerita utama, seperti misalnya sensualitas berbau seksual atau sisipan komedi yang merusak akal sehat. Jika peluang ini bisa dimanfaatkan dengan baik, yaitu membuat film genre dengan gagasan dan cerita yang lebih jelas, tentu penonton setia horor tidak akan kecewa lagi.


 


(ELG)