Seluk-Beluk Profesi Stunt dalam Film

Nia Deviyana    •    06 September 2016 10:34 WIB
film
Seluk-Beluk Profesi Stunt dalam Film
Deswyn Pesik (Kiri) bersama Torro Margens (tengah) dan Indras Hidetora (kanan). ((Foto: MI/Permana)

Metrotvnews.com, Jakarta: Dalam setiap adegan berbahaya dalam film, selalu ada stunt (pemeran pengganti) yang siap menggantikan tugas sang aktor.

Keberadaan stunt menjadi sangat penting, bahkan memengaruhi jalannya produksi film.

Hal tersebut dipaparkan Deswyn Pesik, seorang stuntman, koreografer action, dan koordinator stunt.

Berikut, petikan wawancara pria 41 tahun ini dengan Metrotvnews.com.

Awal menjadi stuntman di film apa?

Sebenarnya saya enggak hanya jadi stuntman, tapi juga di depan layar. Awal-awal dulu lebih banyak ke sinetron laga, seperti Jaka Tingkir, dan FTV Diwangkara.

Sepenting apa penggunaan stunt dalam produksi film aksi atau laga?

Keberadaan stunt sangat diperlukan. Meski aktor menyanggupi untuk melakukan adegan berbahaya, sutradara tetap mewajibkan menggunakan stunt. Karena kalau aktor/aktris sampai cedera, otomatis produksi terhambat, harus menunggu si aktor/aktris sembuh dulu.

Kecuali Jackie Chan ya, dia enggak pernah mau pakai stunt. Tapi enggak pengaruh sama proses produksi juga sih karena dia kan aktor, sutradara, sekaligus produser filmnya. Jadi mau filmnya jadinya lama juga enggak masalah, terserah dia.

Saya juga sedang mempersiapkan kesana (seperti Jackie Chan). Jadi sutradara, main di film sendiri, bersama tim tentunya.

Sebagai koordinator stunt, kategori stunt yang berkualitas itu seperti apa?


Kalau dari postur tubuh, pastinya yang mendekati aktor. Kalau duduk, maksimal perbedaan tingginya 5 cm, kalau berdiri 3 cm. Untuk rambut, sebaiknya pendek. Jadi supaya mudah disesuaikan dengan si aktor. Kalau aktor rambutnya panjang ,bisa pakai wig. Kalau si stunt rambutnya gondrong dan si aktor rambutnya pendek, ya si stunt harus mau potong rambut.

Kalau dari segi kesiapan, kita sebagai koordinator bisa melihat mana yang siap atau enggak. Akan ketahuan kok, kalau dia sudah enggak konsentrasi, capai, gugup, itu kita hold dulu, terus coba lagi. Kalau masih enggak siap, kita ganti orang.

Para stuntman punya komunitas?

Ada. Nama perkumpulannya Stunt Fighter Community (SFC). Berdiri pada 14 November 2012. Awalnya saat itu saya bertemu orang-orang dari Jogja, ada 3 orang. Lagi audisi film, dan dikerjain. Saya waktu itu mikir, 'kasian juga ini orang daerah kok dikerjain.' Dari situ terciptalah gagasan untuk buat komunitas sebagai wadah mereka yang tertarik dengan profesi stunt.

Ada berapa jumlah anggota SFC?

Kita punya anggota yang tersebar di beberapa daerah. Kalau di Jakarta yang latihan rutin jumlahnya sekitar 35 orang. Kita biasa latihan seminggu sekali selama 2 jam.

Banyak tidak PH yang mencari SFC, atau ada komunitas lain?

Kompetitor banyak, dan rata-rata sudah senior.

SFC biasanya menerima permintaan stunt untuk produksi apa saja?

Biasanya untuk film, iklan, bisa juga video klip tapi jarang. Kalau sinetron kami enggak.

Kenapa, kan awalnya dari sinetron?

Karena kalau sinetron, bisa dibilang kita enggak berkarya sesungguhnya. Kalau sinetron, adegan mukul yang penting terlihat mukul. Kalau film harus nyata. Kadang kalau sinetron suka keliatan sekali pakai stunt.

Apakah setiap anggota harus punya dasar beladiri?

Awal mendirikan SFC saya mensyaratkan anggotanya harus bisa beladiri. Saya sendiri menguasai karate, saya pengurus pusat Inkado.


Tapi makin kesini enggak wajib (beladiri). Semua boleh masuk, tapi terus kita pantau setiap latihan. Yang penting mental, dia mau terima adegan apa saja.

Menggunakan stunt, dengan kata lain memindahkan risiko cedera dari aktor kepada orang lain. Apakah para stunt sudah mendapatkan hak sesuai risiko?

Untuk honor, bergantung pada kebijakan rumah produksi (PH). Begitu juga dengan asuransi. Ada PH yang menyediakan asuransi, ada yang tidak. Honor juga disesuaikan berdasarkan tingkat kesulitan, jam terbang, dan tingkat risiko.


Jika dibandingkan dengan Hollywood, honor stunt di Indonesia bagaimana?

Kalau di Hollywood, aktor sama stunt beda tipis (honornya). Bahkan, teman saya yang jadi stunt di Hollywood bilang, yang membedakan cuma nama di kontrak. Nominal honor yang diterima sama.

Jadi, apakah profesi ini menjanjikan?

Buat saya pribadi, kalau sebagai stuntman saja (honornya) enggak cukup, untuk saat ini ya. Berhubung saya menguasai fight koreografi dan jadi koordinator stunt juga, kalau digabung-gabung (penghasilannya) jadinya cukup.

Apa pertimbangan menggeluti profesi stunt?

"Ini (sambil menunjuk perut).

Cuma karena faktor ekonomi?

Ada aktualisasi diri yang pengin diwujudkan juga, sih. Profesi stuntman juga bisa jadi batu loncatan untuk jadi aktor betulan. Apalagi stunt Indonesia itu terkenal nekadnya.

Adakah stuntwoman?

Ada. Tapi belum se-ekstrem stuntman. Selama ini untuk aktris kebanyakan masih pakai stunt laki-laki.

Pernah jadi stunt untuk aktris?

Pernah. Pakai rok. Waktu itu jadi stunt untuk Nina Kozok di film Gangster. Kalau dulu tahun 80-an masih pakai boneka, dan bocor. Kelihatan banget kalau pakai boneka (tertawa). Tapi kalau sekarang pakai stunt.

Gimana caranya, postur tubuh perempuan dan laki-laki kan beda?


Kebetulan kameranya jauh. Jadi, yang diambil kamera postur rampingnya.

Untuk menjaga stamina?

Olahraga itu wajib. Misalnya, setiap pagi lari. Latihan karate lagi. Pada akhirnya saya dan SFC membuat beladiri baru. Beladiri praktis. Kalau di karate itu kuda-kuda penting. Kalau beladiri ini enggak. Zaman sekarang, beladiri praktis itu penting untuk menjaga diri dari penjahat. Untuk perempuan bagus.

Sakitnya para stunt itu kayak apa sih? Kalau kena pukul kan udah biasa, udah enggak sakit lagi dong?

Paling masuk angin. Kalau sakit kan enggak bisa kerja (tertawa).

Harapan?


Stunt di Indonesia terus maju, ada asosiasi, ada stadardisasi harga, dan asuransi, karena namanya kecelakaan enggak bisa dihindari. Saya sebagai stunt koordinator lelah juga harus melihat para stunt saya cedera. Kalau ada asuransi, bisa tenang.


(DEV)