Film 2017, Kisah Lama Bangkit dari Kubur

Purba Wirastama    •    16 Desember 2017 15:25 WIB
film indonesia
Film 2017, Kisah Lama Bangkit dari Kubur
Pengabdi Setan (Twitter @jokoanwar)

Jakarta: Kesuksesan komersial Ada Apa dengan Cinta 2 dan Warkop DKI Reborn pada 2016-2017 seperti jadi petunjuk, bahwa kisah di film-film lama bisa menjadi ceruk bisnis film yang menarik untuk digali kembali. Gairah penonton bisa menjadi tinggi, ingin mengintip lagi seperti apa dunia fiksi, yang telah mereka kenal sebelumnya, hidup di masa sekarang.

"Penasaran," ungkap Tiwi, 26, salah satu penonton film pertama yang juga menonton film terbaru. Nostalgia tentang Rangga dan Cinta telah tertanam di benaknya selama 14 tahun.

Setelah AADC dan Warkop, kebetulan maupun tidak, menyusul sejumlah proyek serupa. Ada peningkatan tren produksi film daur ulang dan sekuel untuk film-film berusia satu dekade atau lebih. Kisah dari 'kubur' arsip digali, diolah, dan didongengkan lagi kepada khalayak penonton terkini.

Ada Ini Kisah Tiga Dara, yang  terilhami atas film Tiga Dara (1956). Dalam kurun waktu berdekatan, film Tiga Dara versi restorasi juga dirilis di bioskop.  Lalu ada sedikitnya delapan judul lain yang dirilis selama 2017.

Ada Moammar Emka’s Jakarta Undercover, Galih dan Ratna, Jailangkung, Pengabdi Setan, Hantu Jeruk Purut Reborn, Jomblo, 5 Cowok Jagoan: Rise of the Zombies, dan Ayat-ayat Cinta 2. Jumlahnya tak seberapa dibanding 110-an total film tahun edar 2017, tapi trennya tetap meningkat.

Kebanyakan pendahulu film-film ini adalah film yang sukses secara komersial dan cukup populer pada tiap masanya. Sementara, jika yang dilihat adalah pendapatan komersial, film terbaru tidak selalu mengulang kesuksesan. Dari sekian judul tersebut, yang telah mencapai angka penonton di atas 700 ribu baru Jailangkung dan Pengabdi Setan.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa harus membuat remake, reboot, atau sekuel atas film lama yang klasik atau nyaris klasik? Setiap produser dan sutradara punya alasan masing-masing. Namun satu hal yang paling mendasar, kisah lama yang diangkat adalah yang pernah mendapat tempat di khalayak penonton. Setidaknya sudah ditonton banyak orang sehingga kisahnya tak terlalu asing.

Salah satunya dari Rapi Films. Sunil Samtani, produser Pengabdi Setan versi Joko Anwar, menyatakan mereka tak berani membuat proyek daur ulang kisah lain setelah Pengabdi Setan.

"Saya juga takut kalau membuat ulang (remake) film yang dulunya biasa. Sayang banget," kata Sunil saat berbincang dengan medcom.id, Jumat 15 Desember 2017.

Arsip Gudang Kisah

Arsip adalah gudang kisah. Pedoman ini diamini Amrit Punjabi, produser di MVP Pictures, rumah produksi milik Raam Punjabi (ayah Amrit) yang aktif membuat film dan tayangan televisi sejak 1988. Sebelum ada MVP, Raam beserta Dhamoo dan Gobind Punjabi juga telah membuat sejumlah film.

Lima Cewek Jagoan (1980) dan Cewek Jagoan Beraksi Kembali (1981) garapan sutradara Danu Umbara adalah film klasik yang diolah lagi oleh MVP untuk menjadi film baru. Putra Danu, Anggy Umbara, dipercaya menjadi penulis dan sutradara untuk proyek reboot ini.

"Kami lihat rekam jejak yang dulu lumayan laku. Jadi kami lihat subjeknya di sini, Lima Cewek Jagoan, pemain-pemain terkenal. Jadi kami mikir, kenapa kami enggak buat sama kayak itu, tapi sekarang pakai dengan lima cowok?" kata Amrit kepada medcom.id, Jumat 15 Desember 2017.


5 Cowok Jagoan (MVP Pictures)

Lalu muncul proyek film 5 Cowok Jagoan, yang telah dirilis, serta 5 Cewek Jagoan, yang dijadwalkan rilis pada pertengahan 2018. Selain kisah Jagoan, MVP juga akan membuat ulang film mereka dari era 2000-an. Amrit tak menampik bahwa AADC 2 dan Warkop DKI Reborn menjadi salah satu pertimbangan dalam memutuskan proyek daur ulang.

"Itu juga menjadi pertimbangan tentunya. Bahkan ke depan, kami masih ada (proyek daur ulang). Kalau ingat dulu, waralaba film horor kami, Kuntilanak 1-3, juga lumayan laku ya, yang dimainkan Julie Estelle. Kami akan syuting tahun depan pada bulan Januari," ujar Amrit.

Menurut Amrit, mereka memang sedang menggali film lama yang kisahnya dinilai bagus dan potensial, tetapi khalayak penonton terkini belum tahu karena jarak waktunya cukup panjang. Namun dia menegaskan bahwa MVP tetap membuat film-film dengan ide baru.

"Sebetulnya ada empat film dari saya saja (sebagai produser), ditambah lagi tiga. Jadi total ada tujuh film dari ide-ide baru tahun depan (2018)," ujar Amrit.

"Jadi bukannya enggak ada ide baru, tapi kita mau membuat campur saja. Sebetulnya kami MVP dari dulu juga sering membuat berbagai macam film. Sekarang kami juga mau coba, campuran film-film asli kami, plus yang mungkin bisa kami ambil dari arsip kami," imbuhnya.

Manoj Punjabi, putra Dhamoo Punjabi dan pendiri MD Pictures, menyatakan hal serupa. Saat ini MD sedang menanti perilisan film sekuel Ayat-ayat Cinta 2. Film pertama dirilis pada 2008 dan merupakan adaptasi atas novel berjudul sama. Film pertama menembus angka penonton 3,6 juta. Novelnya pun mencatat prestasi komersial.

"Memang rencana, saya mau lari ke sekuel. Apa yang punya potensi sekuel, saya akan buat sekuel. Karena karakternya sudah jadi. Biarkan orang bisa lebih menikmati, lebih familiar. Saya akan jadikan (seperti) Hollywood, banyak sekuel," ujar Manoj di kantor MD Jakarta, akhir November lalu.

Bersama MD, yang berdiri sejak 2007, kini Manoj sudah menyiapkan belasan proyek film untuk tahun 2018. Empat di antaranya adalah sekuel dan reboot. Manoj pun tak mau tanggung-tanggung dalam mengerjakan AAC 2, termasuk soal dana produksi. Menurutnya, dia belum pernah menghabiskan dana sebanyak itu untuk film.


Ayat-ayat Cinta 2 (YouTube MD Pictures)

"Tapi namanya, saya lebih dari dagang di sini. (Kalau enggak balik modal), ya sudah. Tapi begini, enggak balik, tapi saya dapat nilai yang lain, saya membantu industri film nasional dalam nilai positif, ya oke, fight lagi," ujarnya.

"Saya enggak munafik. Misi saya adalah membuat uang karena kalau kita enggak punya uang, industri ini enggak bisa bikin (film) lagi. Niatnya harus dapat box office, harus make money karena di kantor bukan saya sendiri. Saya harus hidupkan berapa orang. Ada tanggung jawab itu dan industri enggak jalan kalau film merugi," imbuhnya.

Bertemu Materi Terbaru

Eiffel I'm in Love termasuk film yang meramaikan sinema domestik pada tahun 2003-2004. Film garapan Nasri Cheppy ini merupakan adaptasi novel berjudul sama karya Rachmania Arunita. Kisahnya mengenai remaja, jatuh cinta, dan konflik dengan orang tua.

14 tahun berikutnya, produser Sunil Soraya dan Soraya Intercine Films memulai proyek sekuel Eiffel dengan penulis Donna Rosamayna dan sutradara Rizal Mantovani. Bintang utama tetap sama dan latar waktunya juga berjalan nyaris seiring, yaitu 12 tahun setelah akhir kisah film pertama.

"Pertimbangan saya adalah mendapatkan cerita yang bagus," kata Sunil saat ditemui di kantor SIF Menteng, Jakarta, Selasa 12 Desember 2017.

"Jadi selama 10 tahun, kami enggak mendapat cerita yang bagus. Saya tidak menemukan penulis yang bisa memberi saya cerita yang bukan klise. Datanglah penulis ini, cerita ke saya. Draf pertama juga kurang bagus. Setelah kami bahas beberapa kali, dia bilang: saya tahu caranya, kasih saya kesempatan," jelasnya.

Menurut Sunil, dia telah merencanakan sekuel setelah Eiffel 1 dirilis dan sukses. Namun dia merasa tak segera mendapatkan cerita yang menarik untuk diangkat ke sekuel. Saat ada tawaran untuk membuat kisah ini dalam bentuk serial televisi, konsep cerita sempat coba dibuat, tetapi akhirnya dibatalkan karena Sunil menilai kisah Adit dan Tita hanya bisa untuk film.

Setelah itu dia mencari dan bertemu beberapa penulis, tetapi tak kunjung menemukan naskah yang cocok. Draf naskah-naskah terdahulu disebut Sunil tak berhubungan dengan film pertama dan tak menyajikan dialog yang bagus. Akhirnya, dia tak memikirkan proyek itu lagi hingga satu dekade kemudian.

"Karena lama-lama kalau dapat kayak begitu terus, sudah malas, sudah enggak kepikiran. Paling nanya-nanya saja kalau ketemu orang: bagaimana kalau kita bikin ini, begitu saja. Tapi enggak ada niat untuk bikin (Eiffel 2), sampai akhirnya ketemu penulisnya (Donna)," ungkap Sunil.


Eiffel I'm in Love 2 (Soraya Intercine Films)

Kasus ini kurang lebih serupa dengan yang terjadi pada sekuel AADC, yang menemukan cerita baru seiring perjalanan usia para tokoh fiktif jika ada di dunia nyata. Kisah Eiffel 2 sangat tergantung pada usia tokoh. Menurut Sunil, jika film ini digarap lima tahun lagi atau lima tahun yang lalu, kisahnya tak akan seperti sekarang.

"Mungkin dulu kami enggak dapat (sekuel) karena enggak dapat cerita itu, karena enggak ada tujuan buat karakter kami merasa gelisah.  Karakter utama kami, 27 tahun, belum menikah. Kegelisahan dia dan penonton bisa dekat. Kalau 24 tahun belum nikah, ya nikah nanti saja," tuturnya.

Hal Personal dari Sutradara

Pengabdi Setan, seperti telah diberitakan di banyak media, adalah proyek idaman Joko Anwar selama 10 tahun. Film aslinya, yang digarap Sisworo Gautama Putra pada akhir era 1970-an, diakui Joko telah meninggalkan kesan mendalam.

"Kenikmatan menonton ada di film ini. Saya ingin memberikan efek yang sama kepada penonton, seperti yang saya rasakan waktu kecil dulu," kata Joko saat syukuran sebelum syuting di kantor Rapi Menteng, Jakarta, April lalu.

Pendekatan dengan Rapi Films, rumah tempat film pertama dibuat, dilakukan sejak 2007. Produser Sunil Samtani bercerita bahwa dia sering bertemu dan dihubungi Joko terkait proyek daur ulang Pengabdi Setan (belakangan Joko menyebut film ini prekuel dan bukan remake/reboot).

"Saya bilang: Nanti deh, Joko. Karena saya belum yakin banget, ini Joko bisa enggak bikin ini? Karena film-film dia, kita tahu, semuanya hampir bisa dibilang film-film art, begitu," kata Sunil kepada medcom.id.

Joko lantas mengirim dua berkas film pendek kepada Sunil sebagai bukti riwayat film lain. Dua film horor ini berjudul Jangan Kedip dan Jenny.

"Setelah saya nonton dua film ini, tujuh sampai 10 menit, saya yakin Joko bisa komersial juga. Bahwa kalau memang mau dibuat ulang, karena Pengabdi Setan begitu kuat, saya yakin hanya Joko yang bisa membangun film ini secara baik. Kami enggak akan kecewa," tutur Sunil.


Cuplikan Pengabdi Setan versi 1980 (YouTube Flik TV)

Menurut Sunil, dia tak ragu dengan kualitas profesional Joko dalam menyutradarai film. Setelah percaya bahwa Joko juga dapat membuat film yang memenuhi aspek komersial, Sunil semakin yakin. Dia juga menyatakan heran atas semangat Joko selama 10 tahun.

"Tanpa berhenti, meminta Pengabdi Setan. Enggak ada sutradara kayak Joko. Saya heran, ini orang kok bisa sampai enggak ada habis-habisnya dengan saya. Itu dream comes true banget buat Joko. Kita lihat hasilnya, saya sangat puas sekali. Luar biasa," ungkap Sunil.

Sunil juga mengamini bahwa film daur ulang atau lanjutan harus berangkat dari film lama yang juga kuat. Kisah Pengabdi Setan disepakati untuk digarap lagi dengan pertimbangan bahwa film pertama sudah menjadi 'cult' dan dikenal tak hanya di Indonesia.

"Kalau memang enggak kuat, kita remake juga buat apa (...). Buat saya, ini sudah cukup kuat, tinggal gimana kami garap ulang sekarang. Kalau kami garapnya jelek, ya sudahlah, sayang saja karena begitu besar nama Pengabdi Setan. Tapi dengan Joko Anwar punya semangat, saya yakin film ini jadi bagus. Tinggal gimana komersialnya," tutur Sunil.

Lain lagi dengan Hanung Bramantyo untuk film Jomblo. Pada 2008, Hanung membuat film adaptasi Jomblo bersama SinemArt. Pada 2017, dia membuat ulang film tersebut bersama Falcon Pictures dan tetap menggandeng penulis novel aslinya, Adhitya Mulya.

Menurut Hanung, Jomblo kedua adalah bentuk penebusan dosa. Ini terkait kisah yang disajikan dalam film, tentang empat sekawan mahasiswa yang sama-sama jomblo dan mengalami lika-liku percintaan. Dalam film pertama, dua tokoh yang selingkuh berakhir bahagia dengan pasangan masing-masing.

"Jomblo pertama, saya merasa dosa besar karena Agus dan Doni (mendua), berakhir bahagia dengan pacar masing-masing," kata Hanung dalam diskusi di bioskop Kemang Jakarta, akhir September lalu.

"Mereka selingkuh dan selamat. Saya merasa dosa besar. Ada nilai dari alam bawah sadar saya: saya mengamini orang yang berselingkuh dan orang yang playboy. Saya harus me-remake Jomblo karena ada yang harus saya tebus," lanjutnya.


Cuplikan trailer Jomblo (Falcon)

Rangkaian perjalanan empat sekawan diubah dalam film kedua. Perselingkuhan dan konflik sahabat tetap ada, hanya saja akhir kisah mereka dianggap cukup 'adil' menurut Hanung. Keempat sahabat menelan pil pahit manis masing-masing.

Tren Mendatang

Proyek daur ulang dan lanjutan untuk film-film lama masih akan berlanjut hingga 2018.  Tak hanya Eiffel 2, Kuntilanak, 5 Cewek Jagoan, dan Catatan Si Boy, sedikitnya sudah ada empat film lagi tahun rilis 2018 yang kisah aslinya berasal dari era klasik.

Ada Benyamin Biang Kerok dari Hanung dan Falcon, Keluarga Cemara dari Yandy Laurens dan Visinema, Wiro Sableng dari Angga Dwimas Sasongko dan Lifelike/Fox, serta sekuel Jailangkung dari Rizal Mantovani dan Jose Poernomo.

Lalu juga ada kabar bahwa AADC akan memiliki sekuel yang kedua. Wiro Sableng juga tak akan berhenti di film pertama dan disiapkan sebagai trilogi. Sekuel Pengabdi Setan, kata Sunil, akan dibuat untuk dirilis pada 2019.

Riri Riza Pastikan AADC Berlanjut

"Mudah-mudahan. Kami sedang tunggu jadwal Joko juga. Tapi kami sudah bicara, ingin bikin mungkin buat tahun 2019, dua tahun lagi. Itu sudah kami diskusikan, tinggal nanti konsep ceritanya mau ke mana," ungkap Sunil.

Seluruh kisah tersebut terhitung populer dan ikonik di tiap zamannya. Apakah hasil daur ulang akan mencapai standar dan ekspektasi yang terbangun di khalayak? Kita tunggu saja.



 


(ELG)

Nyawa Lain Yon Koeswoyo

Nyawa Lain Yon Koeswoyo

4 days Ago

Yon dan Koes Plus meninggalkan segudang warisan bagi generasi setelah mereka. Semasa jayanya, K…

BERITA LAINNYA