Menilik Bioskop Alternatif Tangerang Selatan

Purba Wirastama    •    24 April 2017 08:43 WIB
bioskop alternatif
Menilik Bioskop Alternatif Tangerang Selatan
(Foto: Radiant Cinema)

Metrotvnews.com, Tangeran Selatan: Distribusi dan eksibisi film nasional tak dapat bergantung pada lima jaringan bioskop yang ada sekarang. Selain faktor layar tak menjangkau setiap kota dan kelas masyarakat, ragam film yang mampu masuk terbatas dan tak selalu bertahan seminggu atau lebih.

Salah satu bentuk inisiatif eksibisi datang dari sejumlah lembaga dan komunitas di berbagai daerah. Mereka membuat program, baik rutin maupun tidak, untuk menayangkan film-film yang mereka anggap bagus dan menarik, tetapi memiliki saluran distribusi terbatas. Misalnya, program Kineforum dari Dewan Kesenian Jakarta, Sinema Pojok di Solok, atau Rumata Art Space di Makassar.

Inisiatif serupa juga lahir di Ciputat, Tangerang Selatan sejak awal Januari lalu. Bentuknya adalah program pemutaran reguler di satu ruang kecil yang mampu menampung 30 orang penonton dengan kursi-kursi berundak. Karena terletak di kompleks bangunan The Radiant, dinamakan 'bioskop' mini ini Radiant Cinema.

Pemutaran film di Radiant Cinema diadakan tiap dua minggu sekali pada akhir pekan, Sabtu dan Minggu. Menunya berbeda setiap bulan. Biasanya tiga film panjang ditambah sepaket film pendek dari sutradara atau institusi tertentu. Kadang ada diskusi dengan sutradara atau pemain.

Selama empat bulan, mereka telah menayangkan 11 film panjang dan 16 film pendek karya sutradara tanah air. Hampir semua film ini telah mampir di beberapa festival film dalam dan luar negeri.

Misalnya, Siti  (Eddie Cahyono),  Istirahatlah Kata-kata  (Yosep Anggi), dan Drupadi  (Riri Riza).

Budi Prasetyo, penanggungjawab program pemutaran, bercerita bahwa Radiant memilih film yang mereka percaya punya kualitas tertentu dan membawa hal baru dalam sinema, tetapi tak mudah diakses.

"Film yang punya nilai, bisa didiskusikan. Atau misal film yang kita tahu bagus, tapi di bioskop cuma  (bertahan) sebentar," kata Budi kepada Metrotvnews.com  di sela pemutaran film Turah  karya sutradara Wicaksono Wisnu Legowo, Sabtu (22/42017).

"Kita tahu penonton Indonesia suka menunda. Nonton besok-besok, ternyata sudah turun (tidak tayang)," tambahnya.

Bekas Ruang Tak Terpakai

Ruang pemutaran Radiant sebelumnya disewakan bagi para pembuat film untuk melakukan pra-tayang karya dalam masa pasca-produksi. Namun, sering sepi tak terpakai. Budi, yang memang bekerja di sini dan jadi relawan di Kineforum, mengajak dua teman untuk membuat program.

"Budi inisiatif pengin bikin pemutaran alternatif juga. Film Indonesia utamanya. Saya diajak. Kita mulai bikin sesi, Januari tahun ini," kata Panji Mukadis, penanggungjawab urusan publikasi.


Ruang pemutaran Radiant Cinema (Foto: Radiant Cinema)

Bimo Sulistyo, pemilik dan manajer kompleks The Radiant, menyambut baik program ini dan menganggapnya sebagai bentuk investasi.

Mereka juga mengajak Hasto Handoyo untuk mengurus perkara teknis dan desain grafis materi publikasi. Ketiganya sudah sering bertemu di berbagai acara pemutaran film di Jakarta. Panji sendiri juga mengelola situs  dan akun media sosial @infoscreening untuk informasi pemutaran film alternatif.

"(Program pemutaran) diharapkan bisa memperkenalkan tempat ini juga. Jadi orang-orang tahu tempat ini. Pembuat film juga tahu ruangan bagus kayak gini. Jadi bisa kenalan, jaringan, dan lain-lain," ujar Panji.

Merangkul Penonton

Radiant Cinema menargetkan anak-anak muda di seputar Tangerang Selatan yang biasanya harus ke Cikini atau Kemang untuk menonton film sejenis. Awalnya pun mereka tak yakin ada peminat.

"Setelah dibuka kita jadi sadar, 'oh pasar itu ada.' Sebagian besar orang-orang yang sebelumnya pergi ke Kinosaurus, Kineforum bilang, 'Wah dekat rumah saya ada nih.' Kita sadari ternyata itu ada," kata Budi.

Biasanya akun media sosial @radiantcinema mengumumkan di awal bulan, menu film dan waktu tayang selama empat minggu ke depan. Pendaftaran penonton dilakukan secara daring. Kendati sering melebih kuota,  yang akhirnya datang belasan.

"20-an (penonton) sudah oke lah," ungkap Panji.


Sesi diskusi film-film pendek Jason Iskandar (Foto: Radiant Cinema)

Selain faktor Radiant Cinema yang masih baru, soal banyak sedikit penonton ditengarai terkait tingkat kelangkaan akses film, siapa pemain, serta prestasinya di festival film yang populer. Misalnya film Siti  dari Four Colours Film yang meraih penghargaan dari sejumlah festival di beberapa negara pada tahun 2015, termasuk Festival Film Indonesia.

"Film Siti  awalnya kan juga masih sepi ketika saya putar di JakSel (Sinema Rabu di Paviliun 28). Begitu masuk FFI, menang, itu baru (ramai)," kata Panji.

Sejauh ini Drupadi  (2008) punya penonton paling banyak. Menurut Budi, selain melibatkan Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra sebagai pemeran, para penggemar kedua artis rajin membantu Radiant meneruskan informasi pemutaran.

Soal donasi menonton (istilah khas pemutaran non bioskop untuk menyebut harga tiket), Radiant mematok besaran Rp25 ribu. Sebanyak 40 persen pemasukan diteruskan kepada pihak pembuat film.

Jumlahnya memang tak seberapa dibandingkan modal yang telah dihabiskan, baik oleh penyelenggara maupun pemilik karya. Apalagi Radiant bergerak tanpa sokongan lembaga kebudayaan. Namun setidaknya, penonton dapat kesempatan untuk menyimak film-film yang sulit mereka akses.

Dukungan untuk Pembuat Film

Membangun kerjasama dengan pembuat film diakui oleh Budi dan Panji gampang-gampang susah. Meski mereka telah berjejaring dengan beberapa produser dan sutradara, Radiant Cinema masih harus membangun kredibilitas sebagai tempat pemutaran reguler.

"Mereka butuh kepercayaan juga untuk mempercayakan film itu, data itu, untuk kita pegang, kita eksibisikan. Takutnya disalahgunakan. Tapi sejauh ini aman," kata Budi.

Menurut Panji, membuat program pemutaran di Jakarta dan sekitar relatif lebih mudah pada era sekarang. Kadang mereka berkomunikasi via media sosial untuk meminta film ditayangkan. Lagipula inisiatif seperti Radiant juga bukan hal baru.

"Bioskop alternatif sekarang sudah lumrah. Jadi orang yang punya film juga sudah paham. Apalagi sudah tahu komunitasnya," ujar Panji.

Soal berkas film untuk diputar, mereka menerima bentuk digital lewat berbagai media simpan fisik dan daring. Ada produser yang mempercayakan flashdisk untuk ditinggal. Ada yang menyertainya dengan sistem proteksi tertentu.

"Ada juga yang misal kantornya di Jakarta, dia kirim kurir. Kurirnya jaga di sini, biar orang enggak kopi (duplikat) atau apa. Setelah itu diambil lagi," cerita Panji.

Ke depan, Radiant berupaya mempeluas ragam film yang mereka datangkan. Tak hanya karya nasional, tetapi juga karya dari Eropa. Selain itu mereka juga mengincar film Indonesia klasik dan film yang masih hangat bekas tayang bioskop, seperti Night Bus  (Emil Heradi) dan Salawaku  (Pritagita Arianegara).

"Film bagus yang di bioskop turun cepat, bulan berikutnya bisa langsung kita tayangkan. Selama ini kita putar film yang heboh tahun sebelumnya, kayak Siti, Postcard (from the Zoo)," kata Budi.

Mereka juga akan lebih serius mendukung sineas dalam penyediaan tempat eksibisi alternatif selain bioskop. Di sisi lain mereka juga menargetkan perusahaan swasta melirik mereka dan tertarik jadi sponsor untuk berbagai acara terkait film.

"Paling enggak pembuat film tahu kalau tempat ini ada dan untuk menunjang karya mereka. Itu kita sudah senang banget," tutup Budi mengakhiri obrolan sore itu.
(DEV)

Giring

Giring "Nidji," Keputusan Vakum dan Visi Politik

2 days Ago

Setelah lima belas tahun Bersama Nidji, Giring Ganesha mengambil keputusan besar untuk vakum.

BERITA LAINNYA