Aji Saka dan Animo Film Animasi di Indonesia

Elang Riki Yanuar    •    01 Oktober 2016 20:00 WIB
animasi
Aji Saka dan Animo Film Animasi di Indonesia
Battle of Surabaya, salah satu film animasi Indonesia (Foto: twitter)

Metrotvnews.com, Jakarta: Animo terhadap film animasi di Indonesia bisa dibilang biasa saja kalau tidak mau disebut lesu. Pendapat itu disampaikan tim Amikom Yogyakarta, salah satu pihak yang memproduksi film animasi Battle of Surabaya.

Penonton Battle of Surabaya memang tak sebanyak film Warkop DKI Reborn yang meraup 6 juta atau Ada Apa Dengan Cinta (AADC) 2 yang meraih 3,6 juta.

Film Battle of Surabaya tercatat hanya meraih 100 ribu penonton ketika tayang di bioskop Tanah Air pada 2015. Namun, kelesuan minat penonton Indonesia terhadap film animasi tak membuat Amikom dan MSV Pictures berputus asa.

Mereka sadar, pangsa pasar film animasi memang ada di luar negeri. Karena itu, mereka mengikuti sejumlah festival di luar negeri. Hasilnya, mereka mendapat beberapa penghargaan internasional.

Mereka kemudian mendapat kontrak dengan distributor internasional. Nilai kontrak yang didapat pun cukup untuk menutupi biaya produksi sebesar Rp15 miliar.

"Kalau digabung dengan internasional kita untung. Biaya produksi filmnya kemarin Rp15 miliar. Kerjasama internasional yang kita dapat waktu itu Rp19 miliar nilainya. Itu nilai kontrak distribusi yang kita dapat," kata Head of Public Relation Amikom, Erik Hadi Saputra saat berbincang dengan Metrotvnews.com, di Jakarta.

Kesuksesan membangun jaringan internasional membuat langkah Amikom setidaknya lebih mudah ketika hendak membuat proyek film animasi terbaru berjudul Aji Saka. Film tentang raja yang disegani di Tanah Jawa ini dilirik distributor internasional.

Aji Saka juga nantinya terlebih dulu mengikuti festival film internasional sebelum tayang di Indonesia.
Berikut perbincangan Metrotvnews.com dengan PR Amikom, Erik Hadi.


Proyek Amikom selanjutnya setelah Battle of Surabaya?
Setelah Battle of Surabaya kita mempersiapkan film animasi Aji Saka. Itu judul untuk Indonesia, tapi kalau untuk judul Internasional kita belum tentukan. Setelah 2D, kita siapkan film 3D kerjasama dengan Fantasy Film America.

Cerita Aji Saka tentang apa?
Aji Saka bercerita tentang pahlawannya babad Tanah Jawa. Jadi bagaimana legenda Jawa zaman dulu. Bagaimana Pulau Jawa pertama kali ditemukan. Tapi kita lebih mengangkat Yogyakarta. Sebelumnya kan Surabaya.

Apa alasan mengangkat cerita seperti Aji Saka?
AMIKOM ingin membangun branding sekaligus kultur. Makanya film kita bertema tentang Surabaya, Yogyakarta dan tempat lainnya. Kita ingin tunjukkan Indonesia itu kaya akan cerita dan budaya. Itu yang kita ingin angkat ke dunia internasional.

Ada penyesuaian saat dibawa ke pasar internasional?
Memang ada transformasi wajah. Makanya kita buat wajah-wajahnya yang juga selera Hollywood, termasuk juga soal pakaian. Karena memang mau dijual juga di internasional. Kita riset wajah seperti apa yang memang diinginkan di pasar film internasional. Termasuk juga soal budaya. Jadi kalau mau buat film, harus ada unsur budaya yang mewakili.

Beda format atau teknologi Battle of Surabaya dan Aji Saka?
Aji Saka kita pakai 3D. Kita buatnya yang memang investasinya lebih lama. Tapi sudah masuk tahun ketiga. Kita berharap tahun ini sudah bisa selesai. Sebenarnya sebelum buat Battle of Surabaya kita sudah terlebih dulu buat Aji Saka. Tapi karena timnya berbeda. Waktu itu kita juga kerja bagaimana tayang 10 November. Tapi kita agak meleset, makanya tayang Agustus 2015.

Ada syarat khusus ketika film ini dibawa ke pasar internasional?
Untuk masuk ke pasar internasional ya memang harus bahasa Inggris. Jadi tidak boleh orang dikasih sub-tittle. Kalaupun ada harus subtitlle dari Bahasa Inggris ke bahasa mana. Makanya kita pakai dubber internasional juga.

Pelajaran terbesar dari pengalaman Battle of Surabaya kemarin?
Pelajarannya, kita harus kerja sama dengan distributor yang besar. Alhamdulillah kita sudah punya koneksi itu. Di Cannes Film kita sudah bertemu perusahaan animasi besar seperti Yi Animation dari Tiongkok, Fantasy Film di Amerika. Mereka banyak mendistribusi film-film di luar negeri.

Mereka datang langsung ke kami. Mereka belum pernah datang ke Indonesia. Kenapa dia datang? Karena mereka melihat kualitas kita bagus dan tidak kalah dengan yang lain.

Minim peminat karena temanya kurang menjual?
Di Indonesia, dengan peminat penonton yang sangat kecil memang masih kurang. Banyak produser kita yang belum bermain di segmen ini. Tema-temanya juga harus percintaan atau yang lucu-lucu. Animasi sendiri yang dicari itu yang ada unsur komedinya. Bagaimana soal pahlawan, drama dan komedi dijadikan satu.

Biaya produksi film Aji Saka?
Aji Saka belum boleh kita publish. Karena memang salah satu kode etik di distribusi internasional itu tidak boleh mempublish sesuatu sebelum waktunya. Nanti ada masanya sendiri. Tapi dengan format 3D tentu lebih mahal. Tapi kita yakin nilai kontraknya juga akan lebih banyak dari kemarin.

Aji Saka akan ikut festival luar negeri?
Kita akan ikuti festival luar negeri. Distribusinya sudah kerjasama dengan luar negeri, jadi tergantung paket dari distributor kita. Kita berharap 2017 film ini selesai.

Paling nanti diutamakan ke festival yang selama ini sudah kita ikuti. Kita masukin banyak ke festival bergengsi seperti di Houston International, itu termasuk festival paling tua di Texas. Di Belanda, Irlandia, India.

Pengisi suaranya siapa saja?
Untuk sementara belum bisa dibocorkan. Tapi pengisi suaranya memang dari internasional. Kemarin Battle of Surabaya suara Danu diisi Reza Rahadian, tapi versi bahasa Inggrisnya kita pakai Keagan Kang, artis Hollywood. Suara Yumna yang bahasa Indonesia diisi Maudy Ayunda, yang bahasa Inggris diisi Angela Nazar. Kita juga pakai Joe Murray naratornya National Geographic. Syaratnya memang musti pakai bahasa Inggris. Tapi kalau distributor mau tayang di China, kita harus pakai bahasa China. Fleksibel saja. Sementara ini kita siapkan Bahasa Inggris dan Indonesia.

Artis Indonesia bukannya banyak juga yang jago bahasa Inggris?
Maudy Ayunda juga jago bahasa Inggris-nya. Tapi film animasi itu kan tidak hanya sekadar jago bahasa Inggris. Tapi juga bisa mengekspresikan karakternya dan membayangkan lawan mainnya. Reza juga bisa saja untuk versi internasional Aji Saka.

Dulu kita masih cari-cari siapa kira-kira artis Indonesia yang bisa. Setelah Battle of Surabaya kita sudah mulai punya nama. Untuk Aji Saka kita akan pilih yang pernah kerja sama dengan kita, atau yang baiknya siapa. Kita belum tentukan. Kita juga belum boleh publish siapa yang terlibat.

Cara AMIKOM melahirkan animator bagus?
Kita sangat mendukung untuk animasi. Karena kita punya laboratorium yang sangat memadai. Kita mengundang profesional-profesional. Kita kombinasi antara profesional dan alumni. Orang-orang yang pernah kerja di luar negeri sebagai subkontraktor, meski nama mereka tidak pernah tertulis ketika terlibat dalam produksi film.

Potensi animator Indonesia?
Animator kita sangat bisa bersaing dengan luar negeri. Animator itukan suatu kemampuan yang unik dan Indonesia harus memilikinya. Ini bisa jadi ladang emas bagi Indonesia di masa yang akan datang.

Lulusan kita yang banyak rekrut kita itu di Malaysia. Pembuatan film di luar negeri saya yakin juga banyak lulusan kita, tapi nama mereka tidak tertulis. Makanya kita bikin film animasi supaya orang-orang bagus ini terwadahi.

Beberapa film Indonesia mulai pakai CGI, Amikom belajar juga soal itu?
Kita ada yang pakai CGI juga. Pembuatan spesial efek kita pelajari juga. Bagaimana algoritmanya. Jadi di studio itu kita ada ruangan khusus animasi, ruang aset sendiri, ruang colouring sendiri.

Minat terhadap film animasi di Indonesia bagaimana?
Pasar di Indonesia memang masih sangat kecil. Orang Indonesia lebih tertarik pada live action. Dari orang-orang film, termasuk Walt Disney Asia Pacific yang pernah datang ke kami, mereka bilang kalau Indonesia itu belum teredukasi dengan animasi.

Kenapa film animasi kurang diminati di Indonesia?
Kadang orang Indonesia sendiri tidak percaya kalau orang Indonesia itu bisa bikin animasi yang bagus. Battle of Surabaya sering dianggap karya Jepang, padahal itu buatan orang Indonesia. Padahal Kementerian Luar Negeri sekarang sudah sadar animasi adalah soft diplomacy.

Secara bisnis, film animasi di Indonesia memang belum menjanjikan. Pangsa pasar yang paling besarnya akhirnya ada di dunia internasional seperti China, Amerika. Kita melihat pangsa pasar.

Tapi Battle of Surabaya secara bisnis menguntungkan?
Alhamdulillah cukup menguntungkan. Dari sisi penonton banyak. Kalau kita hitung secara keseluruhan iya. Kalau digabung dengan internasional kita untung. Biaya produksi filmnya kemarin Rp15 miliar. Kerjasama internasional yang kita dapat waktu itu Rp19 miliar nilainya. Itu nilai kontrak distribusi yang kita dapat.

Upaya Amikom terus menumbuhkan minat terhadap film animasi?
Orang Indonesia masih suka tiket gratisan atau link download gratisan. Itu tantangan kita. Makanya kita terus edukasi masyarakat lewat kerjasama. Kita selalu bangun mitra, ke sekolah-sekolah mengedukasi pelajar kalau animasi seperti apa. Kita juga cetak buku tentang animasi dan dapat dukungan.

Kita juga mendukung film-film animasi seperti Adit Sopo Jarwo. Semakin banyaknya film animasi itu akan menunjukkan bahwa Indonesia itu bisa.





(ELG)

Senandung Senja Yon Koeswoyo

Senandung Senja Yon Koeswoyo

1 month Ago

Tubuh pria tua itu hanya bersandar di sebuah sofa berwarna cokelat. Seorang kawan di dekatnya m…

BERITA LAINNYA