Anggy Umbara, Bicara Kontroversi, Bumi Manusia hingga Suzzanna

Purba Wirastama    •    31 Oktober 2018 15:18 WIB
sineas kita
Anggy Umbara, Bicara Kontroversi, Bumi Manusia hingga Suzzanna
Anggy Umbara

Embel-embel "sutradara tujuh juta penonton" menjadi salah satu pasak bagi karier perfilman Anggy Umbara. Lewat riwayat Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! produksi Falcon Pictures yang menembus angka penjualan 6,8 juta tiket, Anggy dikenal sebagai sutradara film komedi box office yang diperhitungkan oleh para produser. 

"Alhamdulilah banyak yang menawarkan proyek film, walaupun enggak bisa semua diambil," kata Anggy kepada saya di kawasan Palmerah, Jakarta, belum lama ini. 

Hingga Agustus lalu, sudah ada 11 film rilis garapan dia sebagai sutradara. Itu termasuk 3 - Tiga (2015), film laga paling dikenang Anggy, serta Coboy Junior the Movie (2013), film laris pertamanya yang menampilkan Iqbaal Ramadhan saat berusia 13 bersama Bastian, Kiki, dan Aldi. 

Dari 11 film itu, sembilan judul di antaranya punya unsur komedi. Bahkan komedi menjadi unsur utama dalam Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 (2016) dan Part 2 (2017). 

Kendati begitu, Anggy mengaku bukan penggemar film-film komedi karena "polanya sudah terbaca, jadi enggak lucu". Lalu kenapa garap film komedi? "Pada mintanya itu," ujar Anggy santai. 

Selain komedi, Anggy pernah juga dikabarkan hendak mengarahkan film adaptasi novel Bumi Manusia tulisan Pramoedya Ananta Toer, sebelum akhirnya Hanung Bramantyo yang memegang kemudi itu. Menurut Anggy, dia sempat diminta untuk mempelajari Bumi Manusia dan beberapa proyek film berikutnya, tetapi memang belum ada pernyataan resmi soal itu.

Selepas kontrak eksklusif dengan proyek-proyek film Falcon pada 2017, Anggy dan saudara-saudaranya menjalankan lagi rumah produksi Umbara Brothers Film bentukan mendiang ayahnya, Danu Umbara. Dari situ, Anggy bekerja sama dengan beberapa rumah produksi untuk proyek film berbeda dan memiliki kontrol lebih besar atas tim produksi. 

Misalnya 5 Cowok Jagoan bersama MVP Pictures serta Insya Allah Sah 2 bersama MD Pictures. Untuk Rafathar, dia ikut mengembangkan cerita dan menjadi produser.

Anggy juga sempat mengerjakan film horor debutnya, Suzzanna: Bernapas dalam Kubur, kendati kemudian dikeluarkan dari proyek karena perbedaan selera horor dengan produser Sunil Soraya dari Soraya Intercine Films. Rocky Soraya akhirnya menggantikan posisi Anggy dan memimpin syuting ulang sebagian besar adegan. 

Sore itu, Anggy Umbara menyanggupi permintaan saya untuk bertemu dan membicarakan beberapa hal, mulai dari embel-embel sutradara box office, Bumi Manusia, Rafathar, Suzzanna, film eksperimen, serta sejumlah ambisi Anggy yang masih ingin dicapai. 


Setelah film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! dua tahun silam, Anggy dikenal sebagai "sutradara tujuh juta penonton". Bagaimana sekarang Anggy melihat capaian itu? Seperti apa dampak ke proyek berikutnya?

Dampaknya ke semua. Kesuksesan itu bukan hanya dari gue sutradara, tetapi kerja tim. Memang yang menyetir dan mengarahkan filmnya gue, tetapi di situ ada semua – pemain dan (merek) Warkop DKI sendiri yang sudah melegenda. Faktor utama ya Warkop DKI. 

Kedua ya dari kualitas film tersebut secara hiburan. Rumah produksi pun, yang mengidekan untuk membuat itu dan memberikan kesempatan, juga berjasa banget. Yang mendapat keuntungan terbesar ya rumah produksi dan produser. 

Dampak ke gue, ya gue dicap "sutradara box office" dan Alhamdulilah banyak yang menawarkan proyek film, walaupun enggak bisa semua diambil. Jadi, tetap menjalankan apa yang sesuai sama hati, kemauan, dan keadaan. 

Nah ini yang penting. Maksudnya, di satu sisi, saya merasa sudah mencapai sesuatu, sudah menjadi sutradara film terlaris. Saya ingin coba yang lain. Kemarin mencoba membuat waralaba baru, cerita asli.

Apakah terbebani dengan embel-embel itu?

Sebenarnya buat lucu-lucuan saja, ceng-cengan dengan sutradara lain. Terbebani sih enggak, cuma ya menjadi acuan saja. Di satu sisi, harus tetap menjaga sisi itu (komersial). Kalau (tercapai) enggak tercapai, ya enggak semuanya juga karena sutradara, tetapi karena kerja tim, pemasaran bagus, konten bagus. 

Dengan riwayat komersial itu, tentu Anggy punya daya tawar lebih besar ke produser. Misal soal honor. Betul begitu? 

Untuk komedi, iya, tetapi untuk yang lain (tidak). Ya di situ bebannya, semua orang jadi minta komedi terus. Jadi, pada saat saya ingin mencoba yang lain, agak susah karena banyak produser yang mengecap Anggy itu sutradara komedi, padahal enggak banget. Sebetulnya yang ingin saya lakukan bukan cuma komedi. 

Lalu sekarang ke proyek film baru, Suzzanna. Ada masalah internal soal perbedaan visi yang bikin Anggy tidak lagi terlibat. Kalau dari Anggy, seperti apa masalahnya?

Ya enggak apa-apa, beda visi aja. Poinnya itu, perbedaan visi dan pola kerja. Akhirnya, ya sudah, saya berhenti mengerjakan dan dilanjutkan oleh Rocky (Soraya).

Apakah waktu itu syuting sudah selesai?

Kalau dari skenario, sudah 75%. Seingat saya, saya sudah mengerjakan 139 dari 175 adegan. Itu sudah lebih dari 3/4. Jadi kurang 36-37 adegan. Ini hitungan waktu itu, enggak tahu sekarang, katanya ada yang diganti dan syuting ulang, saya kurang tahu. Penambahan (waktu syuting) 10 hari atau berapa. Saya sudah mengerjakan 30 hari. Hasil akhirnya, gue enggak tahu, belum nonton juga. 

Jadi, benar ada perbedaan selera horor dengan produser Sunil Soraya?

Iya, sangat. Jadi, ada horor yang jumpscare – penonton suka yang kayak begitu. Kalau saya, lebih suka yang lebih intens, lebih suspense. Ya, itu masalah beda selera dan visi saja.


Sebelumnya, ada juga proyek film Bumi Manusia. Pernah ada kabar kalau Anggy akan garap film ini, ternyata tidak jadi. Produser bilang, tidak pernah ada pernyataan resmi bahwa Anggy sutradara. 

Dulu pernah dikasih (cerita), disuruh pelajari, ya saya pelajari. Waktu itu sempat menjadi "proyek berikutnya", tetapi waktu itu di Falcon memang terlalu banyak proyek film yang akan dikerjakan, sehingga belum tahu mana yang akan jalan dulu. 

Kalau untuk konferensi pers, (kabar keterlibatan Anggy) memang belum disahkan, tetapi (saya) sudah disuruh mempelajari dan secara lisan, sudah disuruh mengerjakan skenario bersama Titien Watimena. 

Sehabis Warkop DKI Reborn, semua ditunda dan saya mengerjakan proyek lain dengan rumah produksi lain. Saya enggak mengerjakan proyek-proyek dari Falcon lagi. 




Setelah Warkop DKI Reborn, tampaknya Anggy memang sudah tidak bekerja bersama Falcon lagi, mengapa?

Kalau dari saya, saya ingin cari udara segar saja sebenarnya. Sudah tujuh film sama Falcon, mulai dari Mama Cake. Waktu itu ada perjanjian eksklusif dengan Falcon. Setelah obrolan lagi, kami bikin komitmen bersama untuk semua (proyek) ditahan dulu. 

Akhirnya, saya bisa mencoba mengerjakan yang lain karena ada penawaran dari pihak luar (Falcon) juga. Setelah ditunda, semua kerja sama ditunda. Sejauh ini, sudah enggak mengembangkan naskah (untuk Falcon).

Kenapa akhirnya bikin rumah produksi sendiri? Umbara Brothers Film.

Sebenarnya Umbara Brothers itu sudah lama, itu perusahaan papa saya dari tahun 1960-an. Waktu zaman PKI tuh, papa saya sudah bikin film. Film-filmnya kayak Djalang, Fadjar di Tengah Kabut. 

Setelah papa meninggal, perusahaan beku. Dulu sempat ada omongan dan niat untuk membangkitkan perusahaan itu lagi. Ya sudah, saat (keluar dari Falcon) itu adalah saat yang tepat bagi saya untuk meneruskan kembali perusahaan lama. 

Setelah ada naungan Umbara Brothers, seperti apa bedanya? Apakah punya kontrol lebih atas film yang dibuat?

Pasti. Idealnya seperti itu. Sebelumnya, saya diperkerjakan oleh studio tertentu untuk produksi film dari mereka. Saya lihat, di tengah jalan selalu terjadi masalah produksi karena saya enggak bisa punya kontrol atas apa yang terjadi di lapangan karena itu bukan produksi saya. Tim kadang adalah orang yang belum mengerti cara saya bekerja. Pola kerjanya berbeda. 

Akhirnya, saya membentuk tim sendiri di Umbara Brothers Film, saya pilih orang-orang yang saya percaya. Jadi, saya terima (proyek) filmnya, saya kerjakan bareng dengan tim saya. Produksi dan hasil bisa lebih maksimal, syuting enggak berlarut-larut, semua lebih profesional dengan jalurnya sendiri. Jalur produksi bagus, kreatifnya juga bagus. Jadi dua kaki enak jalannya. 

Sepertinya (di barat) semua sutradara itu punya rumah produksi. Misalnya Ridley Scott punya Scott Free, JJ Abrams punya Bad Robot. Hampir semua sutradara yang bagus dan diakui, punya tim produksi sendiri. Nah ini belum terjadi di Indonesia, hanya beberapa orang saja. Saya ingin menjalankan itu di sini.

Dari 11 film panjang garapan Anggy yang sudah rilis, mana yang paling jatuh secara komersial?

Mama Cake (film debut, 2012). Setelah Mama Cake, ya Alif Lam Min (3 - Tiga, 2015). Kalau Mama Cake mungkin terlalu awal, terlalu aneh saya membuatnya sehingga kurang nyambung dengan penonton zaman itu. Penonton zaman itu masih ingin horor ecek-ecek, adaptasi novel terkenal. Jadi orang melihat, "Ini film apa kok warna-warni banget?" Waktu itu saya sangat eksperimen sehingga (filmnya) mungkin sedikit kurang nyambung dengan masyarakat. 

Kalau Alif Lam Min, itu mungkin memang terlalu "end of time". Ya banyak analisanya, ada yang bilang promosi enggak gencar dan kontennya terlalu jauh, enggak sampai ke penonton Indonesia. 

(Terlalu idealis?) Bisa dibilang begitu, tetapi di luar justru laku. Misalnya di Jepang, film itu diambil distributor sana. Di Hooq, banyak yang menonton. Sampai tahun 2017, masih ada yang nonton bareng (nobar Alif Lam Mim) hampir setiap minggu. Jadi, mereka minta langsung ke XXI di Epicentrum setiap pekan.

Apa film laris pertama?

Coboy Junior (2013). Itu sampai 600-700 ribu penonton (tiket). Tahun segitu, sudah laris kalau sudah di atas 500 ribu (tiket). Sebenarnya, film itu di atas 400 ribu (tiket) saja sudah bisa dibilang laku, sudah balik (modal).

Secara kreatif, film mana yang paling memuaskan?

Alif Lam Min, 3 - Tiga, karena skenarionya benar-benar terjaga, enggak banyak kompromi dengan kemauan pemasaran atau penjual. Secara hasil, kami buat semampu kami – berhasil mengantarkan apa yang ada di naskah. Orang juga bisa merasakan dan paham apa yang mau diceritakan. Terus ya, itu masuk nominasi di beberapa tempat dan menang di Freethought Film Festival di Florida. Lalu, saya juga dapat sutradara terbaik. 

Unsur (cerita Alif Lam Mim) banyak – sosial, politik, agama. Namun temanya tentang islamophobia – menceritakan gimana orang-orang 20 tahun dari sekarang (takut dengan Islam). Sekarang saja sudah kayak begini, apalagi 20 tahun mendatang. 

Tampaknya Anggy punya perhatian khusus tentang isu agama dan sosial. Apakah itu visi khusus yang dibawa di film-film Anggy?

Di satu sisi, iya karena itu tanggung jawab kita bersama. Saya merasa punya tanggung jawab juga di situ. Seharusnya, saya tidak cuma bikin film laku saja, tetapi juga film-film kayak tadi. Misalnya, tetap komedi, tetapi ada isinya (nilai personal), member kebaikan ke orang, mengingatkan. Tugas kita saling mengingatkan. 

Sebenarnya itu hampir ada di semua film saya, tetapi kadang kalah dengan tema besarnya. Misalnya Coboy Junior tentang menggapai mimpi, tentang keluarga dengan nilai-nilai agama dan sosial. Lalu Comic 8, itu sebenarnya tentang korupsi. Perampokan bank adalah tentang korupsi. DPR kan Dewan Perwakilan Rampok, ha-ha. Korupsi dan sejenisnya kan dilarang agama. 

Hasil film 5 Cowok Jagoan di pasar bioskop kurang bagus. Apakah film ini mau dilanjutkan?

Pembicaraan ada, tapi masih omongan di sekitar proyeksi untung rugi. Masih belum menemukan formula yang tepat untuk itu. Jadi, masih ditunda dulu.

Banyak film Anggy beraliran komedi. Apakah nyaman berada di situ?

Enggak sih, tetapi banyak produser meminta komedi. Jadi, ya kadang bikin komedi, lalu bikin drama lagi, laga, horor.

Anggy punya formula metajokes di beberapa film komedi. Seperti apa Anggy sekarang meninjau lagi eksperimen itu?

Menurut saya, film paling berat itu komedi karena cara mengukurnya paling susah, selera humor setiap orang berbeda-beda. Cara evaluasinya ya dengan cara melihat langsung ke penonton. Sejauh ini, yang kami bikin dan kami lihat di lapangan seharusnya berhasil. 5 Cowok Jagoan itu, kalau kami lihat di lapangan, wah parah ketawanya. DOA (Doyok-Otoy-Ali Oncom) kemarin, walaupun enggak sampai sejuta, kalau dicek ke lapangan, komedi bekerja. Jadi ya beda-beda. 

Film Rafathar dihujat karena permasalahan CGI (Computer-generated imagery). Seperti apa respons Anggy?

Niatnya, ingin mengembangkan genre sci-fi di Indonesia. Nah, kita belum eksplorasi ke sana dan sumber daya manusianya juga belum dikasih latihan. Waktu Rafathar itu, anak-anak sebenarnya suka, film itu memang dibuat untuk anak-anak. Kalau kami perlihatkan ke orang dewasa di atas 13 tahun ya menghujat. Film kartun sekarang kayak Upin Ipin, kualitasnya ya begitu saja. Namun kalau dikasih ke anak-anak, seperti anak saya, mereka terhibur sebetulnya.

Namun saat itu (CGI dalam Rafathar) memang belum bisa maksimal karena waktu yang diberikan enggak banyak. (CGI) di Insya Allah Sah 2 juga hanya dua pekan garapnya. Benturannya masih di waktu sih.

Jika terbentur kendala, kenapa harus tetap pakai CGI?

Ada beberapa yang ingin, ada beberapa yang harus karena kondisinya sudah tidak mungkin untuk syuting langsung. Jadi, kami harus ambil malam hari dengan green screen untuk adegan mobil (Insya Allah Sah 2). 

Buat Rafathar, filmnya enggak jadi tayang tanggal itu. Tim CGI sudah bubar dan mengerjakan proyek lain. Akhirnya, kami harus kumpulkan tim baru lagi dan enggak sempat – akhirnya ya jadi buah simalakama, enggak maksimal.

Kabarnya Anggy tidak suka film komedi. Kenapa?

Saya pribadi enggak ketawa ya karena sudah ketahuan polanya. Ini set-up begini, double punch begini, oh ini masuk lagi. Polanya sudah terbaca jadi enggak lucu. Lalu nonton film horor, wah setannya bohongan nih.

Apakah itu berpengaruh saat bikin film komedi?

Sangat berpengaruh karena saya mengharapkan kelucuan yang lebih dari itu, lebih dari yang sudah biasa. 

Namun kelucuan kadang enggak sampai, ya?

Sejauh ini sampai, sampai tujuh juta (tiket), ha-ha. Maksudnya, terbukti dengan jumlah penonton Comic 8 dan Warkop DKI Reborn yang lumayan (besar). Begitu saya nonton ke lapangan, yang cuma laku 300-400 ribu (tiket) juga sampai bagus ke penonton, tapi kurang diminati. Kalau Warkop DKI, orang sudah paham. Waktu Doyok Otoy Ali Oncom, saya baru tahu ternyata komiknya cuma ada di Jakarta, orang luar kota pasti enggak tahu. Kalau di Jakarta, ramai. 

Orang harus kenal dulu, tetapi kalau untuk komedi, harusnya sudah bisa bekerja secara umum. Ada beberapa orang dengan tingkat bercanda enggak kayak begitu, ingin ke smart comedy atau sarcasm. Beda dengan ini dan sitcom. Kami cari yang umum supaya bisa kena semua. 

Dengan Umbara Brothers, film seperti apa yang mau dieksplorasi?

Semuanya. Selain komedi, kami sedang bikin horor juga. Lalu mau bikin film sendiri dari kami, bukan horor, bukan komedi, lebih ke eksperimental. Misalnya tentang serial killer, lebih ke thriller ya. Ini jarang, tetapi enggak ada setannya. Maksudnya, thriller psikologis yang mengeksplorasi tema-tema sensitif – film yang memang harus ditelaah khusus. 

Misalnya, kami sempat kepikiran, sempat ramai masalah ulama yang diincar, dipukuli, dan dibunuh. Ada beberapa kasus. Sebenarnya itu sudah dari tahun 2000-an, tetapi kayak lewat begitu saja. Kami ingin eksplorasi lagi ke sana. 

Mungkin juga film anak-anak, sedang dibikin Bounty (Umbara). Saya juga sedang bikin film laga dan thriller juga. Lalu ada love story, drama, legenda, biopik. Sejauh ini, sudah ada enam (proyek film saya) yang punya judul. 

Film seperti apa yang paling Anggy suka?

Sebenarnya saya paling suka drama yang mengupas hal-hal penting. Alif Lam Mim atau Insya Allah Sah 2, itu asyik. Namun enggak tahu kenapa, orang-orang melihat Insya Allah Sah 2 itu komedi banget, padahal isinya bagus. Saya lebih nyaman ke sana. Alif Lam Mim, Mama Cake.

Eksperimen atau jenis film apalagi yang ingin dikulik? 

Sebetulnya saya cuma ingin bikin tiga film waktu itu. Trilogi Walisanga, waktu itu skenario sudah ada bersama Falcon. Bumi Manusia dan lainnya ada di urutan kesekian. Saya lebih ingin mengerjakan Walisanga, proyek yang memang saya suka. 

Saya juga ingin mengerjakan trilogi Mahabarata. Lalu juga ingin trilogi Samawi. Samawi itu kayak Musa dan Muhammad. Itu kalau keinginan, enggak harus bisa kejadian dalam waktu dekat. 

Mungkin itu dibikin sebagai animasi juga bisa. Misalnya Bilal, orang kulit hitam pertama yang adzan di Mekkah, sahabat nabi, orang kulit hitam yang dibebaskan dari budak dan menjadi salah satu nabi. Film animasinya dibikin di Turki buat layar lebar (Bilal: A New Breed of Hero) dan itu bagus sekali. Nah, saya ingin yang seperti itu, enggak harus kolosal. 

Apa film paling berpengaruh buat Anggy?

The Matrix. Dia menggambarkan tiga agama Samawi dalam sebuah film sci-fi. Zion kan Zionis, terus si Neo itu Isaiah, terus Machines itu kayak Vatikan. Smith, yang kalau ditusuk jadi sama, itu penggambaran akan umat Muslim yang tipikal, seragam.

Film kedua dari Terrence Mallick, The Tree of Life. Itu keren banget, yang main Brad Pitt, menceritakan kehidupan dari awal sampai akhir dengan bahasanya dia. Ya, banyaklah film yang menginspirasi. 

Ambisinya banyak. Bagaimana mengatur untuk mewujudkan itu? 

Kayaknya kebanyakan. Jadi, mengaturnya ya langkah demi langkah. Kadang ada beberapa (proyek) lepas karena kebanyakan. Pernah pegang Gundala, tetapi karena kebanyakan jadi enggak terpegang. Memang harus memilih prioritas yang mana.

Waktu itu, masih kaget, baru keluar dari kontrak eksklusif Falcon, lalu kerja di beberapa studio yang saya pikir, saya bisa kerjakan beberapa. Namun ternyata memang harus dibatasi dengan prioritas itu.

 


(ASA)